LEBAK,Teropongkatulistiwa.my.id
Fenomena munculnya kembali bekas permukiman warga di kawasan Waduk Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Surutnya permukaan air saat musim kemarau membuat sisa-sisa bangunan yang sebelumnya berada di bawah genangan kembali terlihat.
Salah satu warga yang datang karena rasa penasaran adalah Fu Chan, wisatawan asal Tangerang. Ia bersama suaminya sengaja mendatangi kawasan Waduk Karian pada Kamis (10/9/2026) untuk melihat secara langsung fenomena yang belakangan menjadi perhatian masyarakat.
Fu Chan mengaku sebelumnya hanya mengetahui fenomena tersebut melalui informasi dan pemberitaan. Karena penasaran, ia kemudian memutuskan datang langsung bersama suaminya untuk menyaksikan kondisi bekas kampung yang kembali terlihat setelah permukaan air waduk menyusut.
Sesampainya di lokasi, pemandangan yang dilihatnya ternyata menimbulkan perasaan berbeda. Bukan hanya rasa penasaran yang terjawab, Fu Chan justru merasa terharu ketika melihat secara langsung sisa-sisa bangunan yang menjadi jejak kehidupan masyarakat sebelum kawasan tersebut berubah menjadi genangan waduk.
Menurutnya, sisa bangunan yang muncul ke permukaan seolah menggambarkan kembali kehidupan masyarakat yang pernah tinggal di kawasan tersebut. Rumah, jalan dan sejumlah bagian bangunan yang masih terlihat menjadi pengingat bahwa lokasi tersebut sebelumnya merupakan kawasan yang dihuni dan menjadi tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

“Awalnya penasaran ingin melihat langsung. Tapi setelah sampai di sini dan melihat bekas kampungnya, justru merasa terharu. Kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan warga yang dulu tinggal di sini,” ungkap Fu Chan.
Jejak Kehidupan Kembali Terlihat
Fenomena tersebut terjadi seiring menyusutnya debit air Waduk Karian pada musim kemarau. Sejumlah laporan sebelumnya menyebutkan bekas permukiman di kawasan Kampung Somang, serta area Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, kembali terlihat ketika permukaan air turun.
sebelumnya pada 24 Juli 2026 bahwa sisa permukiman di Kampung Somang mulai muncul ke permukaan akibat debit air Bendungan Karian yang menyusut selama musim kemarau.
Bangunan yang terlihat bukan lagi rumah utuh seperti sebelum kawasan tersebut digenangi. Sebagian besar yang tampak merupakan sisa dinding, fondasi dan bagian bangunan lainnya. Namun, keberadaannya cukup jelas untuk memperlihatkan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi permukiman.
Fenomena ini juga telah menarik perhatian masyarakat yang ingin melihat langsung jejak kampung yang sebelumnya berada di bawah air. Sejumlah warga bahkan datang untuk bernostalgia, khususnya mereka yang memiliki hubungan dengan kawasan tersebut.
Awal Agustus 2026 melaporkan bahwa kemarau panjang membuat permukaan Waduk Karian surut sekitar 4–5 meter sehingga Kampung Somang kembali terlihat, termasuk fondasi rumah dan sisa infrastruktur desa.
Bukan Sekadar Pemandangan
Bagi Fu Chan, kemunculan kembali kampung tersebut bukan sekadar fenomena alam yang menarik untuk diabadikan melalui kamera.
Ia melihat ada sisi kemanusiaan yang kuat di balik pemandangan tersebut. Setiap sisa bangunan yang muncul seolah menyimpan cerita mengenai masyarakat yang pernah tinggal, bekerja, beraktivitas dan membangun kehidupan di kawasan tersebut.
Perasaan haru itu semakin terasa ketika membayangkan perubahan kawasan tersebut dari sebuah permukiman menjadi bagian dari genangan Waduk Karian.
Fenomena ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat luas untuk melihat kembali jejak kehidupan masa lalu yang selama ini berada di bawah permukaan air.
Sejumlah pemberitaan sebelumnya menyebut kawasan permukiman tersebut ditinggalkan warga sebelum penggenangan Waduk Karian. Sisa bangunan kemudian kembali terlihat ketika permukaan air mengalami penyusutan.
Ramai Didatangi Warga
Kemunculan kembali bekas kampung tersebut tidak hanya menarik perhatian wisatawan asal Tangerang. Warga dari daerah sekitar juga berdatangan untuk melihat langsung kondisi kawasan yang sebelumnya tidak dapat terlihat ketika permukaan air waduk tinggi.
Pemandangan sisa-sisa permukiman yang muncul di tengah waduk menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi masyarakat yang baru mengetahui bahwa di kawasan tersebut sebelumnya terdapat kampung yang cukup padat.
Seiring semakin jelasnya bagian-bagian permukiman yang muncul, rasa penasaran masyarakat pun semakin tinggi. Mereka datang untuk melihat dari dekat sekaligus mengabadikan momen tersebut.
Namun, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa kawasan waduk tetap merupakan wilayah yang harus dikunjungi dengan memperhatikan keselamatan. Kondisi permukaan tanah, lumpur, kedalaman air dan perubahan debit waduk dapat berubah sewaktu-waktu.
Menyimpan Cerita tentang Masa Lalu
Kemunculan kembali bekas kampung di Waduk Karian pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai surutnya air akibat musim kemarau.
Di balik tembok dan fondasi yang kembali terlihat, tersimpan cerita tentang kehidupan masyarakat yang pernah menempati kawasan tersebut.
Bagi pengunjung seperti Fu Chan, melihat langsung sisa permukiman tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Rasa penasaran yang awalnya mendorong perjalanan dari Tangerang berubah menjadi rasa haru setelah menyaksikan sendiri jejak kehidupan warga yang kini berada di dasar waduk.
Fenomena ini pun menjadi pengingat bahwa perubahan sebuah wilayah tidak pernah benar-benar menghapus cerita masa lalu. Ketika air surut, jejak-jejak tersebut kembali muncul dan membawa ingatan tentang kehidupan masyarakat yang pernah ada di sana.(Mal)
