LEBAK – Teropongkatulistiwa.my.id
Rangkasbitung menyimpan kisah panjang yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Dahulu kota ini tumbuh sebagai kota satelit yang cukup maju di masa penjajahan Belanda, sekaligus menjadi lokasi yang menginspirasi tulisan monumental Max Havelaar karya Multatuli yang menyoroti kekejaman sistem Tanam Paksa. Kini, wilayah ini bertransformasi menjadi pusat budaya yang menjaga erat memori perjuangan dan nilai literasi bagi generasi penerus. (20/7/2026)
Awal Mula Berdirinya Rangkasbitung
Dahulu wilayah ini berupa hutan bambu belantara. Pada tahun 1849, atas perintah Bupati Lebak Raden Tumenggung Adipati Karta Natanagara, Patih Jahar membuka kawasan ini untuk dijadikan lokasi ibu kota Kabupaten Lebak yang baru. Setahun kemudian mulai dibangun sarana pusat pemerintahan dengan tata letak khas sistem kerajaan: alun-alun, pendopo, kantor dan rumah bupati, serta Masjid Agung. Secara resmi, ibu kota Kabupaten Lebak dipindahkan dari Warunggunung ke Rangkasbitung dan diresmikan pada 31 Maret 1851.
Jejak Multatuli dan Perlawanan
Nama Rangkasbitung dikenal luas dalam literatur dunia berkat Eduard Douwes Dekker, Asisten Residen yang bertugas di wilayah ini pada periode 1860–1861. Dengan nama samaran Multatuli (bahasa Latin yang berarti “Aku sudah banyak menderita”), ia menulis novel Max Havelaar yang membuka mata dunia atas penindasan terhadap rakyat Lebak. Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan protokol di dekat alun-alun, serta menjadi identitas utama pelestarian sejarah daerah ini.
Selain itu, catatan sejarah juga mencatat keberadaan kediaman Asisten Residen yang digunakan pada tahun 1910–1934, serta aktivitas pers di pabrik minyak Mexolie pada tahun 1930-an yang menjadi bukti pergerakan ekonomi dan informasi kala itu.
Destinasi Sejarah Wajib Kunjungi
Untuk menyusuri jejak masa lalu, terdapat sejumlah lokasi bersejarah yang masih terawat hingga kini:
– Museum Multatuli: Terletak di Jalan Alun-Alun Timur No.8, museum ini merupakan museum anti-kolonialisme pertama di Indonesia yang dibuka tahun 2018. Menyimpan berbagai dokumen sejarah perlawanan, dengan tiket masuk terjangkau: Rp2.000 untuk warga lokal dan Rp5.000 bagi wisatawan asing.
– Water Toren Rangkasbitung: Menara air peninggalan kolonial yang juga dimanfaatkan saat pendudukan Jepang. Dulunya menjadi sumber air vital yang mengalirkan air dari mata air Ciwasia, Gunung Karang secara gravitasi.
– Stasiun Rangkasbitung: Beroperasi sejak akhir abad ke-19, menjadi pintu gerbang penting konektivitas dan pergerakan ekonomi di wilayah Banten bagian barat.
Giat Telusur Sejarah Oleh Pelajar
Kekayaan sejarah ini kini terus digali oleh generasi muda. Sejumlah sekolah menengah atas di Kabupaten Lebak rutin mengadakan kegiatan “Telusur Sejarah Rangkasbitung”.
Salah satu pembimbing kegiatan dari SMA Negeri 1 Cibadak menyampaikan, pengetahuan tentang masa lalu ini adalah warisan berharga yang wajib diketahui dan dijaga oleh penerus bangsa.
“Saya berharap sejarah Rangkasbitung ini tidak hanya menjadi catatan lama, tapi menjadi pelajaran hidup bagi anak-anak kita,” ujarnya.(red)
Sementara itu, salah satu siswa dari SMA Negeri 1 Maja mengaku sangat antusias dengan kegiatan ini. Sebagai generasi penerus, ia berharap kisah perjuangan di Rangkasbitung senantiasa hidup dan menjadi kebanggaan bersama.
