LEBAK, BANTEN – Teropongkatulistiwa.my.id
Tradisi pertanian masyarakat adat Baduy kembali menjadi perhatian. Di tengah dorongan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan melakukan panen lebih dari satu kali dalam setahun, masyarakat Baduy tetap mempertahankan aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Baduy, bertani bukan semata-mata aktivitas untuk mengejar hasil produksi sebanyak-banyaknya. Pertanian merupakan bagian dari tata kehidupan yang berkaitan erat dengan hubungan manusia, alam, dan aturan adat.
Dalam sebuah tayangan dokumenter Baduy: Ekspedisi Indonesia Biru, tergambar bagaimana masyarakat Baduy mempertahankan pola pertanian tradisional. Dorongan agar pertanian dapat menghasilkan panen dua kali setahun disebut mendapat penolakan karena tidak sesuai dengan ketentuan adat yang mereka pegang.
Panen Sekali Setahun
Keterangan tersebut sejalan dengan informasi yang disampaikan Tetua Adat Baduy sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom. Masyarakat Baduy hingga kini melakukan panen padi huma satu kali dalam setahun dan menyimpan hasilnya di lumbung tradisional atau leuit.
Sistem tersebut menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan masyarakat Baduy. Hasil panen tidak seluruhnya langsung dikonsumsi atau dijual, tetapi disimpan sebagai persediaan untuk menghadapi musim kemarau, serangan hama maupun kondisi darurat lainnya.
Ribuan leuit yang tersebar di wilayah masyarakat Baduy menjadi simbol penting dari kemandirian pangan sekaligus bukti bahwa tradisi pertanian tidak hanya berorientasi pada hasil produksi jangka pendek.
Adat Menjadi Pedoman
Bagi masyarakat Baduy, aturan adat atau pikukuh menjadi pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kegiatan pertanian. Pola satu kali tanam dalam setahun juga telah disebut sebagai bagian dari aturan pertanian masyarakat Baduy.
Pandangan tersebut memperlihatkan adanya konsep keseimbangan dalam kehidupan masyarakat adat. Alam tidak hanya dipandang sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai bagian yang harus dijaga keberlangsungannya.
Karena itu, gagasan peningkatan produksi melalui penambahan musim tanam tidak selalu dapat diterapkan begitu saja di wilayah adat. Bagi masyarakat Baduy, mempertahankan aturan leluhur merupakan bagian dari menjaga identitas dan keberlanjutan kehidupan mereka.
Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi
Tradisi pertanian Baduy menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui kearifan lokal. Dengan menyimpan hasil panen di leuit, masyarakat memiliki cadangan pangan yang dapat digunakan sepanjang tahun.
Pada 2026, pemerintah daerah juga menegaskan pentingnya menjaga budaya leluhur masyarakat Baduy. Dalam rangkaian Seba Baduy 2026, pesan mengenai pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap adat kembali menjadi bagian penting dari komunikasi masyarakat Baduy dengan pemerintah.
Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan peningkatan produktivitas, masyarakat Baduy memilih mempertahankan cara hidup yang diwariskan leluhur. Bukan sekadar menolak perubahan, tetapi menjaga nilai yang mereka yakini sebagai jalan untuk hidup selaras dengan alam.
Catatan:
Bagi masyarakat Baduy, cukup bukan berarti kurang. Cukup adalah ketika kebutuhan terpenuhi tanpa harus mengorbankan keseimbangan alam dan adat yang diwariskan para leluhur.(Red)
