Lebak, Banten –Teropongkatulistiwa.my.id
Surutnya permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, kembali memperlihatkan sisa-sisa permukiman yang selama ini tenggelam.Minggu(26/7/2026).
Pondasi rumah, dinding bangunan, hingga jalan kampung tampak muncul ke permukaan, menghadirkan pemandangan yang mengundang perhatian sekaligus membangkitkan kenangan bagi warga yang pernah bermukim di kawasan tersebut.
Fenomena ini terjadi seiring menurunnya debit air bendungan, sehingga bagian-bagian kampung lama yang sebelumnya berada di bawah permukaan air kembali terlihat. Dari kejauhan tampak deretan bangunan yang telah rusak, menyisakan struktur tembok dan pondasi sebagai saksi bisu kehidupan masyarakat sebelum kawasan itu ditenggelamkan untuk pembangunan Bendungan Karian.

Bagi sebagian warga, kemunculan kembali kampung lama bukan sekadar pemandangan unik. Di balik bangunan-bangunan yang tersisa, tersimpan cerita tentang rumah, tempat ibadah, sekolah, hingga kenangan kehidupan yang kini hanya tinggal kenangan.
Bekas permukiman warga di Desa Sukajaya dan Desa Sukarame kembali terlihat. Sisa-sisa masjid, pondasi rumah, jalan kampung, hingga hamparan sawah yang dahulu menjadi sumber kehidupan warga muncul kembali setelah bertahun-tahun tenggelam akibat pembangunan Bendungan Karian.
Di antara orang-orang yang berdiri memandangi kampung itu, ada Muhammad Husen (42). Tatapannya tak pernah lepas dari hamparan tanah yang kini kembali terlihat. Di sanalah ia dilahirkan, dibesarkan, dan menghabiskan masa kecilnya sebelum seluruh kampung harus dikosongkan.
“Ini kampung tempat saya lahir,” ucapnya lirih.
Ia mengatakan debit air mulai menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Sejak saat itu, perlahan-lahan kampung yang pernah menjadi rumahnya kembali terlihat dari permukaan air. Namun, kemunculan kampung itu justru membawa luka yang selama ini berusaha ia simpan.
“Sedih. Banyak kenangannya di sini. Sekarang cuma bisa lihat saja. Dulu kampung ini ramai, sekarang sunyi,” katanya.
Husen mengaku hampir setiap hari berada di sekitar bendungan. Bukan untuk mencari ikan atau menikmati pemandangan, melainkan sekadar memandangi bekas kampung halamannya yang tak mungkin lagi ia tempati.
Baginya, setiap pondasi rumah yang muncul mengingatkan pada keluarga, tetangga, dan kehidupan yang dahulu begitu akrab. Jalan-jalan tanah yang kini terlihat pernah dipenuhi anak-anak bermain. Masjid yang tersisa pernah menjadi tempat warga berkumpul, salat berjamaah, dan mengaji setiap malam.
“Kalau orang kampung bilang, rasanya nelangsa,” ujarnya.
Perasaan itu ternyata bukan hanya miliknya. Banyak mantan warga sengaja datang ketika air bendungan surut. Mereka berjalan menyusuri bekas jalan kampung, mencoba mengingat letak rumah masing-masing, lalu pulang dengan mata yang berkaca-kaca.
“Banyak yang datang. Mereka lihat-lihat bekas rumah. Semua bilang sedih,” kata Husen.
Ia masih mengingat jelas wajah kampung yang kini tinggal kenangan. Di sana berdiri dua masjid besar, sejumlah majelis taklim, balai warga, serta hamparan sawah yang setiap musim panen menjadi tumpuan hidup masyarakat.

Kini, semuanya hanya tersisa sebagai jejak yang sesekali muncul ketika kemarau datang. Ironisnya, surutnya air bendungan yang membuka kembali kampung lama justru terjadi saat warga di sekitar bendungan dilanda krisis air bersih. Sumur-sumur mengering sehingga banyak warga memanfaatkan air yang tersisa di kawasan bendungan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Banyak yang datang ambil air buat mandi sama mencuci. Sumur-sumur sudah kering semua,” ujar Husen.
Di tepian bekas kampung itu, Komariah (49), bersama warga Kampung Nagrog, Desa Sukajaya lainnya tampak mengangkut air menggunakan jeriken dan mencuci pakaian.
Ia mengaku sudah beberapa waktu memanfaatkan air di kawasan bendungan selama musim kemarau.
“Bukan saya saja. Banyak warga ke sini karena kekeringan,” katanya.
Namun air tersebut hanya digunakan untuk mencuci. Untuk kebutuhan minum dan mandi, ia masih harus mencari sumber air lain yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya. Air itu diangkut menggunakan jasa ojek agar bisa sampai ke rumah.
“Kalau buat minum sama mandi harus ke arah Sajira. Yang di sini cuma buat mencuci,” ujarnya.
Komariah mengatakan hingga kini belum ada bantuan air bersih yang diterimanya. Ia berharap pemerintah segera turun tangan membantu warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
“Mudah-mudahan pemerintah membantu kami. Sampai sekarang belum ada bantuan,” katanya penuh harap.
Kemarau tahun ini memang memperlihatkan kembali wajah kampung yang telah lama tenggelam. Namun, bagi warga yang pernah tinggal di sana, yang muncul bukan sekadar rumah-rumah tua atau jalan kampung yang retak dimakan waktu.
Yang kembali ke permukaan adalah kenangan tentang kehidupan yang pernah begitu hangat, tentang azan yang dahulu berkumandang dari masjid-masjid itu, tentang sawah yang memberi penghidupan, dan tentang sebuah kampung yang kini hanya bisa dipandang dari kejauhan tanpa pernah benar-benar bisa dipulangkan.(Mal)
